Bandung
Wednesday, August 27, 2008

Konferensi Asia Afrika tahun 1955


Asian-African or Afro-Asian Conference — also known as the Bandung Conference — was a meeting of Asian and African states, most of which were newly independent, organized by Egypt, Indonesia, Burma, Ceylon (Sri Lanka), India, Iraq, and Japan, which took place on April 18-April 24, 1955, in Bandung, Indonesia, and was coordinated by Ruslan Abdulgani, secretary general of the Indonesian Ministry of Foreign Affairs. The conference's stated aims were to promote Afro-Asian economic and cultural cooperation and to oppose colonialism or neocolonialism by the United States, the Soviet Union, or any other "imperialistic" nation.

Twenty-nine countries representing over half the world's population sent delegates. The conference reflected what they regarded as a reluctance by the Western powers to consult with them on decisions affecting Asia in a setting of Cold War tensions; their concern over tension between the People's Republic of China and the United States; their desire to lay firmer foundations for China's peace relations with themselves and the West; their opposition to colonialism, especially French influence in North Africa and French colonial rule in Algeria; and Indonesia's desire to promote its case in the dispute with the Netherlands over western New Guinea (Irian Barat).

Soekarno, the first president of the Republic of Indonesia, portrayed himself as the leader of this group of nations, naming it NEFOS (Newly Emerging Forces).[1]

Major debate centered around the question of whether Soviet policies in Eastern Europe and Central Asia should be censured along with Western colonialism. A consensus was reached in which "colonialism in all of its manifestations" was condemned, implicitly censuring the Soviet Union, as well as the West. China played an important role in the conference and strengthened its relations with other Asian nations. Having survived an assassination attempt by foreign intelligence services on the way to the conference, the Chinese prime minister, Zhou Enlai, displayed a moderate and conciliatory attitude that tended to quiet fears of some anticommunist delegates concerning China's intentions.

Later in the conference, Zhou Enlai signed on to the article in the concluding declaration stating that overseas Chinese owed primary loyalty to their home nation, rather than to China - a highly sensitive issue for both his Indonesian hosts and for several other participating countries.

A 10-point "declaration on promotion of world peace and cooperation," incorporating the principles of the United Nations Charter and Jawaharlal Nehru's principles, was adopted unanimously:

1. Respect for fundamental human rights and for the purposes and principles of the charter of the United Nations
2. Respect for the sovereignty and territorial integrity of all nations
3. Recognition of the equality of all races and of the equality of all nations large and small
4. Abstention from intervention or interference in the internal affairs of another country
5. Respect for the right of each nation to defend itself, singly or collectively, in conformity with the charter of the United Nations
6. (a) Abstention from the use of arrangements of collective defence to serve any particular interests of the big powers
(b) Abstention by any country from exerting pressures on other countries
7. Refraining from acts or threats of aggression or the use of force against the territorial integrity or political independence of any country
8. Settlement of all international disputes by peaceful means, such as negotiation, conciliation, arbitration or judicial settlement as well as other peaceful means of the parties own choice, in conformity with the charter of the united nations
9. Promotion of mutual interests and cooperation
10. Respect for justice and international obligations.[2]

The Final Communique of the Conference underscored the need for developing countries to loosen their economic dependence on the leading industrialized nations by providing technical assistance to one another through the exchange of experts and technical assistance for developmental projects, as well as the exchange of technological know-how and the establishment of regional training and research institutes.

The conference of Bandung was preceded by the Bogor Conference (1954) and was followed by the Belgrade Conference (1961), which led to the establishment of the Non-Aligned Movement.[3] In later years, conflicts between the nonaligned nations eroded the solidarity expressed at Bandung.

To mark the fiftieth anniversary of the Conference, Heads of State and Government of Asian-African countries attended a new Asian-African Summit from 20-24 April 2005 in Bandung and Jakarta. Some sessions of the new conference took place in Gedung Merdeka (Independence Building), the venue of the original conference. The conference concluded by establishing the New Asian-African Strategic Partnership (NAASP).

Indonesian Version

KONFERENSI ASIA AFRIKA (Bandung, 18 – 24 April 1955)

Negara-negara Peserta Konperensi Asia-Afrika :

1. Afghanistan
2. Birma
3. Kamboja
4. Ceylon
5. Republik Rakyat Tiongkok
6. Mesir
7. Ethiopia
8. Pantai Emas
9. India
10. Indonesia
11. Iran
12. Irak
13. Jepang
14. Yordania
15. Laos
16. Libanon
17. Liberia
18. Libya
19. Nepal
20. Pakistan
21. Filipina
22. Arab Saudi
23. Sudan
24. Suriah
25. Thailand
26. Turki
27. Vietnam (Utara)
28. Vietnam (Selatan)
29. Yaman

Historical Walk

Langkah bersejarah delegasi Indonesia

Sekitar pukul 08.30 WIB, para delegasi dari berbagai negara berjalan meninggalkan Hotel Homann dan Hotel Preanger menuju Gedung Merdeka secara berkelompok untuk menghadiri pembukaan Konferensi Asia Afrika. Banyak di antara mereka memakai pakaian nasional masing-masing yang beraneka corak dan warna. Mereka disambut hangat oleh rakyat yang berderet di sepanjang Jalan Asia Afrika dengan tepuk tangan dan sorak sorai riang gembira. Perjalanan para delegasi dari Hotel Homann dan Hotel Preanger ini kemudian dikenal dengan nama “Langkah Bersejarah” (The Bandung Walks). Kira-kira pukul 09.00 WIB, semua delegasi masuk ke dalam Gedung Merdeka.

Tidak lama kemudian rombongan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia, Soekarno dan Mohammad Hatta, tiba di depan Gedung Merdeka dan disambut oleh rakyat dengan sorak-sorai dan pekik "merdeka". Di depan pintu gerbang Gedung Merdeka kedua pemimpin Pemerintah Indonesia itu disambut oleh lima perdana menteri negara sponsor.

Pembukaan KAA

Presiden Indonesia, Soekarno, menyampaikan pidato Pembukaan
Konferensi Asia Afrika, 18 April 1955
Pada pukul 10.20 WIB setelah diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia : "Indonesia Raya", Presiden Indonesia, Soekarno, mengucapkan pidato pembukaan yang berjudul "Let a New Asia And a New Africa be Born" (Mari Kita Lahirkan Asia Baru dan Afrika Baru). Dalam kesempatan tersebut Presiden Soekarno menyatakan bahwa kita, peserta konferensi, berasal dari kebangsaan yang berlainan, begitu pula latar belakang sosial dan budaya, agama, sistem politik, bahkan warna kulit pun berbeda-beda, namun kita dapat bersatu, dipersatukan oleh pengalaman pahit yang sama akibat kolonialisme, oleh ketetapan hati yang sama dalam usaha mempertahankan dan memperkokoh perdamaian dunia. Pada bagian akhir pidatonya beliau mengatakan :Saya berharap konferensi ini akan menegaskan kenyataan, bahwa kita, pemimpin-pemimpin Asia dan Afrika, mengerti bahwa Asia dan Afrika hanya dapat menjadi sejahtera, apabila mereka bersatu, dan bahkan keamanan seluruh dunia tanpa persatuan Asia Afrika tidak akan terjamin. Saya harap konferensi ini akan memberikan pedoman kepada umat manusia, akan menunjukkan kepada umat manusia jalan yang harus ditempuhnya untuk mencapai keselamatan dan perdamaian. Saya berharap, bahwa akan menjadi kenyataan, bahwa Asia dan Afrika telah lahir kembali. Ya, lebih dari itu, bahwa Asia Baru dan Afrika Baru telah lahir!

Pidato tersebut berhasil menarik perhatian dan mempengaruhi hadirin yang dibuktikan dengan adanya usul Perdana Menteri India dan didukung oleh semua peserta konferensi untuk mengirimkan pesan ucapan terimakasih kepada presiden atas pidato pembukaannya.

Pada pukul 10.45 WIB., Presiden Indonesia, Soekarno, mengakhiri pidatonya, dan selanjutnya sidang dibuka kembali. Secara aklamasi, Perdana Menteri Indonesia terpilih sebagai ketua konferensi. Selain itu, Ketua Sekretariat Bersama, Roeslan Abdulgani, dipilih sebagai sekretaris jenderal konferensi.

Sidang konferensi terdiri atas sidang terbuka untuk umum dan sidang tertutup hanya bagi peserta konferensi. Dibentuk tiga komite, yaitu Komite Politik, Komite Ekonomi, dan Komite Kebudayaan. Semua kesepakatan tersebut selanjutnya disetujui oleh sidang dan susunan pemimpin konferensi adalah sebagai berikut :

Ketua Konferensi
Ali Sastroamidjojo, Perdana Menteri Indonesia
Ketua Komite Politik
Ali Sastroamidjojo, Perdana Menteri Indonesia
Ketua Komite Ekonomi
Roosseno, Menteri Perekonomian Indonesia
Ketua Komite
Kebudayaan
Muhammad Yamin, Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Indonesia
Sekretaris Jenderal
Konferensi
Roeslan Abdulgani, Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Indonesia

Dalam sidang-sidang selanjutnya muncul beberapa kesulitan yang bisa diduga sebelumnya. Kesulitan-kesulitan itu terutama terjadi dalam sidang-sidang Komite Politik. Perbedaan pandangan politik dan masalah-masalah yang dihadapi antara Negara-negara Asia Afrika muncul ke permukaan, bahkan sampai pada tahap yang relatif panas.

Namun berkat sikap yang bijaksana dari pimpinan sidang serta hidupnya rasa toleransi dan kekeluargaan di antara peserta konferensi, maka jalan buntu selalu dapat dihindari dan pertemuan yang berlarut-larut dapat diakhiri.

Sidang KAA

Suasana Sidang Komite Politik di Gedung Dwiwarna

Setelah melalui sidang-sidang yang menegangkan dan melelahkan selama satu minggu, pada pukul 19.00 WIB. (terlambat dari yang direncanakan) tanggal 24 April 1955, Sidang Umum terakhir Konferensi Asia Afrika dibuka. Dalam Sidang Umum itu dibacakan oleh sekretaris jenderal konferensi rumusan pernyataan dari tiap-tiap panitia (komite) sebagai hasil konferensi. Sidang Umum menyetujui seluruh pernyataan tersebut, kemudian sidang dilanjutkan dengan pidato sambutan para ketua delegasi. Setelah itu, ketua konferensi menyampaikan pidato penutupan dan menyatakan bahwa Konferensi Asia Afrika ditutup.

Konsensus itu dituangkan dalam komunike akhir, yang isinya adalah mengenai :

1. Kerja sama ekonomi;
2. Kerja sama kebudayaan;
3. Hak-hak asasi manusia dan hak menentukan nasib sendiri;
4. Masalah rakyat jajahan;
5. Masalah-masalah lain;
6. Deklarasi tentang memajukan perdamaian dunia dan kerja sama internasional.

Deklarasi yang tercantum pada komunike tersebut, selanjutnya dikenal dengan sebutan Dasasila Bandung, yaitu suatu pernyataan politik berisi prinsip-prinsip dasar dalam usaha memajukan perdamaian dan kerja sama dunia.
Dasasila Bandung:

1. Menghormati hak-hak asasi manusia dan menghormati tujuan-tujuan dan prinsip-prinsip dalam Piagam PBB.
2. Menghormati kedaulatan dan keutuhan wilayah semua negara.
3. Mengakui persamaan derajat semua ras serta persamaan derajat semua negara besar dan kecil.
4. Tidak campur tangan di dalam urusan dalam negeri negara lain.
5. Menghormati hak setiap negara untuk mempertahankan dirinya sendiri atau secara kolektif, sesuai dengan Piagam PBB.
6.
1. Tidak menggunakan pengaturan-pengaturan pertahanan kolektif untuk kepentingan khusus negara besar mana pun.
2. Tidak melakukan tekanan terhadap negara lain mana pun.
7. Tidak melakukan tindakan atau ancaman agresi atau menggunakan kekuatan terhadap keutuhan wilayah atau kemerdekaan politik negara mana pun.
8. Menyelesaikan semua perselisihan internasional dengan cara-cara damai, seperti melalui perundingan, konsiliasi, arbitrasi, atau penyelesaian hukum, ataupun cara-cara damai lainnya yang menjadi pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam PBB.
9. Meningkatkan kepentingan dan kerja sama bersama.
10. Menjunjung tinggi keadilan dan kewajiban-kewajiban internasional.