Bandung
Thursday, October 27, 2005

Selintas

Alkisah pada jaman dahulu kala, di tatar Parahyangan, berdiri sebuah kerajaan yang gemah ripah lohjinawi kerta raharja. Tersebutlah sang prabu yang gemar olah raga berburu binatang, yang senantiasa ditemani anjingnya yang setia, yang bernama "Tumang".

Pada suatu ketika sang Prabu berburu rusa, namun telah seharian hasilnya kurang menggembirakan. Binatang buruan di hutan seakan lenyap ditelan bumi. Ditengah kekecewaan tidak mendapatkan binatang buruannya, sang Prabu dikagetkan dengan nyalakan anjing setianya "Tumang" yang menemukan seorang bayi perempuan tergeletak diantara rimbunan rerumputan. Alangkah gembiranya sang Prabu, ketika ditemukannya bayi perempuan yang berparas cantik tersebut, mengingat telah cukup lama sang Prabu mendambakan seorang putri, namun belum juga dikaruniai anak. Bayi perempuan itu diberi nama Putri Dayangsumbi.

Alkisah putri Dayngsumbi nan cantik rupawan setelah dewasa dipersunting seorang pria, yang kemudian dikarunia seorang anak laki-laki yang diberi nama Sangkuriang yang juga kelak memiliki kegemaran berburu seperti juga sang Prabu. Namun sayang suami Dayangsumbi tidak berumur panjang.

Suatu saat, Sangkuriang yang masih sangat muda belia, mengadakan perburuan ditemani anjing kesayangan sang Prabu yang juga kesayangan ibunya, yaitu Tumang. Namun hari yang kurang baik menyebabkan perburuan tidak memperoleh hasil binatang buruan. Karena Sangkuriang telah berjanji untuk mempersembahkan hati rusa untuk ibunya, sedangkan rusa buruan tidak didapatkannya, maka Sangkuriang nekad membunuh si Tumang anjing kesayangan ibunya dan juga sang Prabu untuk diambil hatinya, yang kemudian dipersembahkan kepada ibunya.

Ketika Dayangsumbi akhirnya mengetahui bahwa hati rusa yang dipersembahkan putranya tiada lain adalah hati "si Tumang" anjing kesayangannya, maka murkalah Dayangsumbi. Terdorong amarah, tanpa sengaja, dipukulnya kepala putranya dengan centong nasi yang sedang dipegangnya, hingga menimbulkan luka yang berbekas. Sangkuriang merasa usaha untuk menggembirakan ibunya sia-sia, dan merasa perbuatannya tidak bersalah. Pikirnya tiada hati rusa, hati anjingpun jadilah, dengan tidak memikirkan kesetiaan si Tumang yang selama hidupnya telah setia mengabdi pada majikannya. Sangkuriangpun minggat meninggalkan kerajaan, lalu menghilang tanpa karana.
Setelah kejadian itu Dayangsumbi merasa sangat menyesal, setiap hari ia selalu berdoa dan memohon kepada Hyang Tunggal, agar ia dapat dipertemukan kembali dengan putranya. Kelak permohonan ini terkabulkan, dan kemurahan sang Hyang Tunggal jualah maka Dayangsumbi dikaruniai awet muda. Syahdan Sangkuriang yang terus mengembara, ia tumbuh penjadi pemuda yang gagah perkasa, sakti mandraguna apalgi setelah ia berhasil menaklukan bangsa siluman yang sakti pula, yaitu Guriang Tujuh.

Dalam suatu saat pengembaraannya, Sangkuriang tanpa disadarinya ia kembali ke kerajaan dimana ia berasal. Dan alur cerita hidup mempertemukan ia dengan seorang putri yang berparas jelita nan menawan, yang tiada lain ialah putri Dayangsumbi. Sangkuriang jatuh hati kepada putri tersebut, demikianpula Dayangsumbi terpesona akan kegagahan dan ketampanan Sangkuriang, maka hubungan asmara keduanya terjalinlah. Sangkuriang maupun Dayangsumbi saat itu tidak mengetahui bahwa sebenarnya keduanya adalah ibu dan anak. Sangkuriang akhirnya melamar Dayangsumbi untuk dipersunting menjadi istrinya.



Namun lagi lagi alur cerita hidup membuka tabir yang tertutup, Dayangsumbi mengetahui bahwa pemuda itu adalah Sangkuriang anaknya, sewaktu ia melihat bekas luka dikepala Sangkuriang, saat ia membetulkan ikat kepala calon suaminya itu. Setelah merasa yakin bawa Sangkuriang anaknya, Dayangsumbi berusaha menggagalkan pernikahan dengan anaknya. Untuk mempersunting dirinya, Dayangsumbi mengajukan dua syarat yang harus dipenuhi Sangkuriang dengan batas waktu sebelum fajar menyingsing.
Syarat pertama, Sangkuriang harus dapat membuat sebuah perahu yang besar. Syarat kedua, Sangkuriang harus dapat membuat danau untuk bisa dipakai berlayarnya perahu tersebut.

Sangkuriang menyanggupi syarat tersebut, ia bekerja lembur dibantu oleh wadiabalad siluman pimpinan Guriang Tujuh untuk mewujudkan permintaan tersebut. Kayu kayu besar untuk perahu dan membendung sungai Citarum, ia dapatkan dari hutan di sebuah gunung yang menurut legenda kelak diberi nama Gunung Bukit Tunggul. Adapun ranting dan daun dari pohon yang dipakai kayunya, ia kumpulkan disebuah bukit yang diberi nama gunung Burangrang.

Sementara itu Dayangsumbi-pun memohon sang Hyang Tunggal untuk menolongnya, menggagalkan maksud Sangkuriang untuk memperistri dirinya.

Sang Hyang Tunggal mengabulkan permohonan Dayangsumbi, sebelum pekerjaan Sangkuriang selesai, ayampun berkokok dan fajar menyingsing ……. Sangkuriang murka, mengetahui ia gagal memenuhi syarat tersebut, ia menendang perahu yang sedang dibuatnya. Perahu akhirnya jatuh menelungkup dan menurut legenda kelak jadilah Gunung Tangkubanparahu, sementara aliran Sungai Citarum yang dibendung sedikit demi sedikit membentuk danau Bandung.

*****


WAJAH "Bandung Tempo Doeloe", seperti yang tergambar dalam buku karangan Haryoto Kunto, adalah Bandung yang layak menyandang sebutan "Parahyangan". Atau seperti yang terungkap dalam salah satu lagu Bimbo "tempat bersemayamnya para dewa", yang diciptakan "waktu Tuhan tersenyum" (mengutip kalimat dalam tulisan kolumnis M.A.W. Brouwer). Semua menunjukkan bukti, keindahan Bandung yang luar biasa.

Tahun enam puluh hingga tujuh puluhan pemujaan terhadap keindahan Bandung, masih tetap terasa gemanya. Iwan Abdul Rachman menciptakan lagu "Senja Jatuh di Bandung Utara", atau Tetty Kadi melantunkan "Kota Kembang".

Umumnya lagu-lagu tentang Bandung, memang indah untuk dikenang, menjadi lagu-lagu yang abadi, sebab diciptakan dengan kedalaman perasaan. Tidak hanya dalam suasana merdeka, pada masa revolusi pun, Bandung tetap memiliki pesona yang sering mengilhami para pencipta lagu. Simaklah ungkapan perpisahan seorang gadis dengan kekasihnya yang tergambar dalam lagu ciptaan Ismail Marzuki "Saputangan dari Bandung Selatan"; Saputangan sutera putih/dihiasi bunga warna/sumbang kasih jaya sakti/di selatan Bandung raya//Diiringi kata nan merdu mesra/terimakasih dik, janganlah lupa//Airmataku berlinang/saputanganmu kusimpan/ujung jarimu kucium/serta doa kuucapkan//Selamat jalan/selamat berjuang/Bandung selatan/jangan dilupakan.

Hampir semua lagu-lagu ciptaannya menjadi lagu-lagu yang abadi. Kalau ia begitu jatuh hati pada Bandung, mungkin juga karena wanita yang dicintainya berasal dari daerah Bandung Selatan. Barangkali kenyataan itu pula yang menyebabkan nama Bandung Selatan menjadi inspirasi yang memiliki makna khusus untuk diabadikan dalam lagu ciptaannya.

Kenangan kepada Bandung, ternyata tidak hanya tergambar melalui lagu Indonesia. Dalam lagu Sunda pun, pastilah banyak yang mengenal lagu "Bandung", yang selalu dinyanyikan dari masa ke masa. Liriknya seakan melukiskan Bandung yang indah dikaitkan dengan sasakala Sangkuriang. Tapi dalam lirik lagu itu juga dilukiskan kehadiran para pendatang yang membuat Bandung padat penghuninya dengan bangunan yang membuat heurin; Bandung, Bandung/Bandung nelah Kota Kembang/Bandung, Bandung/Sasakala Sangkuriang//Dilingkung gunung/heurin ku tangtung/puseur kota nu mulya Parahyangan//Bandung, Bandung/pada muru/nu dijarugjugan. Sedangkan dalam lagu "Cikapundung" ciptaan Kosaman Jaya yang dialunkan Euis Komariah tahun enam puluhan, justru menggambarkan Bandung seperti ini; Kembang, Kota Kembang/Kota pangbrangbrang kabingung.

Dalam sebuah lagu abadi karya R.T.A. Sunarya "Lembur Kuring", Bandung juga sempat disinggung; Lembur matuh naha atuh/milih Bandung Kota Kembang/Bandung nu heurin ku tangtung/sasakala Sangkuriang.

Lirik yang mengungkapkan Bandung dikelilingi gunung, juga terdapat dalam lagu Bimbo yang berjudul "Bandung"; Bandung, Bandung di lingkung gunung/tempatku berlindung/sasakala Lutung Kasarung/lambang budi luhung/Bandung, Bandung di lingkung gunung/tempatku berlindung/tempatku di utara Bandung/Tangkuban Parahu.

**

IWAN Abdul Rachman, termasuk salah seorang pencipta lagu yang banyak melahirkan lagu yang terinspirasi karena "keindahan" yang ia saksikan di Kota Bandung, seperti yang ia ungkapkan melalui lagu "Flamboyan", atau "Melati dari Jayagiri". Pada masanya, sekitar tahun tujuh puluhan, semua mahasiswa di Bandung, dalam kegiatan-kegiatan di alam terbuka, pastilah akan menyanyikan lagu-lagu ciptaan Iwan. Sebab umumnya lagu-lagu Iwan, memiliki keakraban dengan alam.

Yang tak boleh dilupakan, dua pencipta lagu legendaris Djuhari dan Benny Corda. Keduanya menciptakan lagu "Bubuy Bulan" (Benny Corda), dan "Sangkuriang" (Djuhari), yang bukan saja indah, tapi juga dengan konsep musik Barat yang lekat dengan nuansa kasundaan. Dalam lagu "Bubuy Bulan", Benny Corda melukiskan "Situ Ciburuy" (di Padalarang) seperti ini; Situ Ciburuy laukna hese dipancing/nyeredet hate ningali ngeplak caina. Sedangkan dalam lagu "Sangkuriang", Djuhari menggambarkan kedalaman perasaan kedaerahan melalui irama dan lirik berbahasa Indonesia. Sesuai judulnya, lagu itu memang mengungkapkan kisah tentang Sangkuriang. Melalui irama musiknya, Djuhari mampu membawa pendengar berangan-angan ke zaman bihari; Nun dupa mengalun/buka tabir purbakala/riwayat Priangan/ibu yang menanggung malang.

Meskipun Benny Corda dan Djuhari tidak menyebut nama Bandung, tapi apa yang diungkapkan dalam lagunya tetap akan mengingatkan pada Tatar Bandung.

Salah satu kelebihan pencipta lagu seperti Ismail Marzuki, Iwan Abdul Rachman, Djuhari, dan Benny Corda, karena mereka menciptakan lagu dengan kedalaman perasaan, sehingga lagu-lagu yang tercipta adalah lagu-lagu yang mampu menggugah, yang tetap hidup dari masa ke masa.

Pada generasi Tetty Kadi, beberapa penyanyi yang kini tidak aktif lagi, seperti Anna Mathovani, Rosa Lesmana, Nenny Triana, Ronny Yus, Didi Yudha Prawira, Deddy Damhudi, Wandi, hingga grup yang terkenal tahun enam puluhan seperti Eka Jaya Combo, pernah mengalunkan lagu-lagu tentang Bandung.

Ketika ada yang bertanya, kenapa sekarang tak ada lagi yang menciptakan lagu tentang "keindahan Kota Bandung"? Padahal grup Kla Project menciptakan lagu "Jogyakarta" dengan menggambarkan suasana di Malioboro. Dan lagu tersebut kemudian mendapat penghargaan dari Sri Sultan Hamengku Buwono X, karena dianggap telah memopulerkan Kota Yogya. Jawabannya, tidaklah terlalu sulit. Meski berat hati, pasti akan banyak yang sependapat, bahwa siapa pun yang datang ke Bandung saat ini, sulit untuk mendapatkan kesan yang mendalam, bila ukurannya adalah keindahan, kesejukan, dan kenyamanan, seperti yang dulu tergambar dalam lirik lagu "Kota Kembang" Tetty Kadi. Apalagi jika dalam benak mereka membayangkan julukan Parisj van Java.

Lagu tentang Bandung, seakan menjadi saksi keadaan Bandung. Dulu, Bandung dipuja, didamba, dan selalu mengilhami pencipta lagu. Tapi kini, wajah Bandung Tempo Doeloe sudah terkikis dengan padatnya para pendatang, pengapnya bangunan beton, sempitnya jalan raya, semrawutnya para pedagang, minimnya lahan terbuka, dan kian tersisihnya lahan hijau. Melalui lagu, kita bisa merasakan, Bandung Tempo Doeloe adalah "Surga Tatar Sunda". Tapi Bandung yang kini ada di hadapan kita, adalah Bandung yang hampir "kehilangan identitas masa silam".

Ketika Iwan Abdul Rachman menceritakan terciptanya lagu Flamboyant, saat ia menyaksikan bunga flamboyan berguguran di senja hari, di daerah sekitar Sukajadi, kini yang ia saksikan barangkali hanya segumpal kekecewaan, sebab yang ia lihat kini hanyalah kerangka jalan layang yang entah kapan akan selesainya.***