Bandung
Thursday, October 27, 2005

Bandung Baheula

Bandung On The Past Time


DUA turis asing memerhatikan catatan prasasti yang menjelaskan sejarah awal berdirinya tugu mesin penggilas di halaman Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat Jalan Asia Afrika Bandung, Ahad (18/4). Tugu yang awalnya hanya sebuah patok itu merupakan jejak tongkat Gubernur Jenderal H. W Daendels dan Bupati Bandung R.A.A. Wiranatakusuma yang pada tanggal 25 Mei 1810 usai meresmikan jembatan Sungai Cikapundung memerintahkan untuk segera dibangun sebuah kota. Sejak itu, mesin penggilas yang pertama meratakan tempat ini dinyatakan sebagai tanda posisi KM.

So quite, but natural with the fresh air, take a look the empity road so peace. Bandoeng that we see on the picture is really different with now, Asia-Africa street is fulled by car and motor cycle, Not only the traffic on the road but the building is un organize. Aloen-aloen yang dulu merupakan taman kota sekarang ini tengah dijadikan ajang pembangunan masjid agung. Tepat di taman yang pada tahun 80-an menjadi tempat berkeliaran PSK sekarang ini sedang dibangun tampat parkir bawah tanah, sedang diatasnya akan tetap dijadikan taman kota.
Masjid Agung yang sekarang berdiri megah (terlampau megah, malah) seperti berdiri amat sombong dan canggung. Gedung tua yang ada di pojok persis sebelah masjid Agung menjadi anak tiri. Pembangunan masjid ini pun menjadi tanda tanya. Jika mampu membuat tempat parkir bawah tanah, tak mungkinkah pembangunan masjid agung juga diperluas ke bawah tanah. Toh kebanyakan yang datang ke masjid agung ini adalah para pengunjung pusat-pusat perbelanjaan yang mengurung aloen-aloen, yang tak jarang menjadikan masjid agung juga sebagai tempat tidur siang setelah melaksanakan shalat.




Aloen-aloen Bandung





Braga




Salah satu proyek kolosal pada jaman penjajahan dulu adalah proyek pembuatan jalan raya pos (Postweg) . Pembuatan jalan yang diprakarsai oleh Gubernur Jendral pada waktu itu, Daendels, dimulai pada tahun 1811. Jalan Raya yang menghubungi Anyer di ujung barat pulau Jawa dan Panarukan di ujung timur pulau Jawa, tak hanya terbilang wah di jaman itu tapi juga menelan banyak korban buruh pribumi.
Kota Bandoeng merupakan salah satu kota yang terlewati jalan raya ini. Postweg yang membelah kota Bandoeng dari barat ke timur, sekarang ini menjadi 3 jalan utama yaitu: jalan Sudirman di sebelah barat, jalan Asia-Afrika di tengah kota, dan jalan Ahmad Yani di timur kota Bandoeng.

Jalan Braga, dulu namanya Jalan Pedati (Pedatiweg) pada akhir tahun l900an. Dulu eekitar tahun l939an, dalam terbitan khusus surat kabar "AID de Preangerbode," untuk memperingati ulang tahun kota Bandoeng, yang keseratus.
Dalam penerbitan khusus tsb., a.l. dilihat sebuah gambar pedati dengan muatannya, dan di kanan tampak seorang perempuan berjalan mengiringi pedato, sedang suaminya duduk di pedati, di jalan Braga tsb.
Menurut penerbitan tsb, dulu Jalan Suniaradja namanya Jalan Parapatan Pompa, dan Jalan Tamblong adalah dari nama seorang tukang kayu Tionghwa, yang bernama Tan Long, yang rumahnya terletak di sudut Jl. Tamblong, menempati Hotel Preanger sekarang.
Pembangungan terakhir adalah tahun l939, sesuai rencana Pemerintah Hindia Belanda untuk menjadikan Bandoeng sebagai ibukota menggantikan Batavia. Hotel Homann dibangun kembali dengan gaya art deco, seperti juga gedung bank Denis dan gedung toko Onderling Belang, di Braga, across the street dari gedung bioskop Majestic.
Pada tahun tsb. dibangun viaduct, karena lalu-lintas yang dari Landraadweg (punten, apakah namanya sekarang "Jl. Pengadilan?"?), sampai panjang sekali semua delman, kretek menunggu kereta api lewat dari setasion Bandoeng atau kereta api dari arah timur. Kemudian viaduc tsb juga menghubungkan Jl. Suniaradja dengan Jl. Braga. Dulu jalan di Jl. Braga tsb jalan buntu, namanya Gang Effendi.
Lalu pembangunan lain adalah jalan samping penjara Banceuy, dulunya jalan kampung, dibikin tembus sampai Jl. Braga di Jl. Naripan. Sayang sekali sekarang banyak gedung bersejarah sudah dihancurkan. Seperti gedung penjara tsb. menjadi mall, cuma tempat Bung Karno dipenjara, masih dipertahankan. Kemudian gedung-gedung bioskop Varia, Elita dan Orienetal di sekitar alun-alun juga sudah dihancurkan. Padahal dulu gedung Varia adalah tempat Bung Karno dan pemimpin-pemimpin pergerakan kemerdekaan kita, mengadakan rapat-rapat umum.
Waktu jaman hindia belanda dulu, jalan Braga merupakan sentra pertokoan terkemuka. Konsep yang dicetuskan oleh walikota Bandung saat itu, B. Coops. Ia menginginkan Bragaweg jadi sentra pertokoan di Nederland Indies yang bergaya barat.
Sebenarnya pada awalnya sebelum tahun 1882 nama yang diberikan adalah jalan pedati, pedatiweg, yang kemudian pada tahun tersebut, asisten residen Bandung, Pieter Sitjhoff, merubahnya menjadi Bragaweg. Nama yang diambil dari nama kelompok tonil yang didirikannya.
Pak Sumarsongko yang lahir 76 tahun yang lalu di kota Bandoeng menulis:
"Saya teringat sekali dengan Bragaweg, karena setiap hari saya lewat jalan tsb dari sekolah saya di Logeweg (sekarang Jalan Wastukancana) no. 3, di samping greja. Waktu itu, Jalan Braga seperti Fifth Avenue-nya Bandoeng, sangat ekslusif untuk orang-orang Belanda yang berbelanja maupun yang makan-minum di Maison Bogerijen (sekarang Bandung Permai)".